Menulis surat lamaran kerja terlihat sederhana, tetapi pada praktiknya masih banyak pelamar yang gagal melewati tahap awal seleksi hanya karena kesalahan mendasar. Padahal, surat lamaran adalah kesan pertama yang menentukan apakah CV Anda akan dibaca atau diabaikan oleh perekrut.
Ironisnya, kesalahan ini tidak hanya dilakukan oleh fresh graduate, tetapi juga oleh pencari kerja berpengalaman. Artikel ini membahas kesalahan menulis surat lamaran yang masih sering terjadi dan perlu segera dihindari agar peluang dipanggil interview semakin besar.
Menggunakan Surat Lamaran yang Sama untuk Semua Perusahaan
Salah satu kesalahan paling umum adalah mengirim surat lamaran yang sama persis ke banyak perusahaan. Perekrut dapat dengan mudah mengenali surat lamaran yang bersifat umum dan tidak ditujukan secara spesifik.
Surat lamaran seharusnya disesuaikan dengan:
-
Nama perusahaan
-
Posisi yang dilamar
-
Kualifikasi yang dibutuhkan
Surat yang relevan menunjukkan bahwa pelamar benar-benar memahami posisi yang dituju dan memiliki ketertarikan yang serius.
Tidak Menyebutkan Posisi yang Dilamar Secara Jelas
Banyak surat lamaran tidak mencantumkan posisi yang dilamar atau menuliskannya secara ambigu. Hal ini menyulitkan HRD, terutama di perusahaan yang membuka banyak lowongan sekaligus.
Posisi yang dilamar sebaiknya disebutkan secara jelas di:
-
Paragraf pembuka
-
Subjek email (jika dikirim melalui email)
Ketidakjelasan posisi dapat membuat lamaran langsung dilewatkan.
Bahasa Terlalu Formal atau Terlalu Santai
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah penggunaan bahasa yang tidak proporsional. Surat lamaran dengan bahasa terlalu kaku terasa tidak natural, sementara bahasa yang terlalu santai terkesan tidak profesional.
Gunakan bahasa yang:
-
Sopan
-
Profesional
-
Jelas dan lugas
Hindari penggunaan singkatan tidak resmi, emotikon, atau gaya bahasa percakapan sehari-hari.
Isi Surat Terlalu Panjang dan Bertele-tele
Surat lamaran bukan tempat untuk menceritakan seluruh perjalanan hidup dan karier. Perekrut biasanya hanya meluangkan waktu singkat untuk membaca surat lamaran.
Idealnya, surat lamaran:
-
Terdiri dari 3–4 paragraf singkat
-
Langsung ke inti
-
Fokus pada nilai yang bisa Anda berikan
Surat yang terlalu panjang justru berisiko tidak dibaca sampai selesai.
Tidak Menunjukkan Nilai dan Kontribusi Pelamar
Banyak surat lamaran hanya berisi kalimat normatif seperti “saya pekerja keras” atau “saya mampu bekerja dalam tim” tanpa bukti atau konteks.
Surat lamaran yang baik seharusnya menjelaskan:
-
Keahlian utama yang relevan
-
Pengalaman yang mendukung
-
Kontribusi yang bisa diberikan kepada perusahaan
Pendekatan ini membuat surat lamaran terasa lebih meyakinkan dan bernilai.
Kesalahan Ejaan dan Tata Bahasa
Kesalahan penulisan masih menjadi penyebab utama lamaran langsung ditolak. Salah ketik, penggunaan tanda baca yang keliru, atau struktur kalimat yang tidak rapi mencerminkan kurangnya ketelitian.
Sebelum mengirim surat lamaran:
-
Baca ulang secara menyeluruh
-
Gunakan fitur pemeriksa ejaan
-
Pastikan format rapi dan konsisten
Detail kecil sering kali menjadi penilaian besar bagi perekrut.
Penutup Surat Tidak Profesional
Bagian penutup surat lamaran sering dianggap sepele, padahal sangat menentukan kesan akhir. Penutup yang terlalu memaksa atau terlalu pasif dapat mengurangi nilai surat secara keseluruhan.
Gunakan penutup yang:
-
Sopan
-
Percaya diri
-
Tidak berlebihan
Misalnya dengan menyatakan harapan untuk dapat mengikuti tahap seleksi selanjutnya tanpa kesan memaksa.
Kesimpulan
Kesalahan menulis surat lamaran masih sering terjadi karena dianggap formalitas semata. Padahal, surat lamaran adalah alat komunikasi pertama antara pelamar dan perusahaan.
Dengan menghindari kesalahan-kesalahan di atas dan menulis surat lamaran secara lebih terarah, profesional, dan relevan, peluang untuk dipanggil interview akan meningkat secara signifikan.



